Showing posts with label ingin. Show all posts
Showing posts with label ingin. Show all posts

Tuesday, December 17, 2013

Major Minor Ingin Berkembang di Pasar Domestik

Usia label lokal Major Minor belum genap dua tahun, tetapi langkahnya untuk menjadi sebuah merek besar sudah mulai menunjukkan titik terang. Busana siap pakai yang dimotori pasangan suami istri, Ari Seputra dan Sari Seputra, serta desainer muda Inneke Margaretha dan Ambar Pratiwi ini mampu menembus Harvey Nicols, London. Di situs belanja onlinewww.harveynichols.com, busana hasil karya Ari Seputra dkk. itu tampil bersama busana rancangan desainer kondang kelas dunia, seperti Kenzo, Armani, Alexander McQueen, Lanvin, Stella McCartney, Polo Ralph Lauren, Chloe, Michael Kors, dll. Harga Major Minor di Harvey Nicols berkisar 150-350 poundsterling (atau Rp 2,25-5,25 juta) per potong.

Major Minor bukan sekadar mejeng diHarvey Nicols, melainkan juga laris manis. Buktinya, setelah pesanan pertama sebanyak 105 potong, mereka melakukan order ulang untuk musim spring/summer. Padahal, Harvey Nicols membuat aturan yang cukup ketat. Jika penjualan busananya loyo, desainer harus siap-siap ditendang dari Harvey Nicols. “Sekarang mereka sudah mau mulai order untuk yangautumn/winterLookbook untuk season ini sudah kami kirim ke mereka,” kata Ari.
Di jagat fashion nasional, nama Ari Seputra tak asing lagi. Ia sudah satu dekade meramaikan panggung fashiondi Tanah Air, dan sempat memperkuat Rumah Mode Prajudi. Ia banyak bermain di kain tradisional. Setelah keluar dari Rumah Mode Prajudi, Ari mulai membuat labelnya sendiri di tahun 2000. Sementara istrinya, Sari Seputra, yang berkarier sebagai pengacara korporat akhirnya meninggalkan pekerjaan karena kecintaannya pada dunia fashion. Pasutri ini mulai merintis label Elaborate, Ari by Ari Seputra. Kemudian, pada 2011 meluncurkan label Major Minor.
Menurut Ari, ide awal label Major Minor ini terjadi setelah mengamati pasar busana nasional untuk anak-anak muda yang berkembang pesat. “Banyak merekbuat anak muda bermunculan, termasuk yang dijual melalui online shopping,” ungkap Ari. Akhirnya ia berpikir, kenapa tidak mencoba masuk ke pasar ini.
Nah, untuk meluncurkan Major Minor, Ari pun menggandeng dua desainer muda, Inneke Margaretha dan Ambar Pratiwi yang memang sudah bergabung dengannya dalam menggarap Elaborate dan Ari by Ari Seputra.
Label Major Minor pun mulai mejeng di the Goods Dept lewat proses seleksi yang ketat. Di Goods Dept, Major Minor mengirimkan 100 potong dan ludes dalam tempo dua minggu saja. Apa kekuatan desain Major Minor sehingga digandrungi pecinta busana? Menurut Ambar, busana karya desainer lain di Goods Dept cenderung pada warna-warna gelap. “Keunggulan kami di Major Minor lebih berani main warna, mencampur warna. Desain kami juga ada detail tapi masih bisa dipakai sehari-hari, easy to wear,” ia menuturkan.
Ari menekankan, konsep desain Major Minor, antara lain, blocking warna dan edgy. “Itu garis besar konsep desain kami, sehingga berbeda dari desainer lain,” ia menandaskan. Menurut Sari, untuk mengorbitkan Major Minor, selain bersandar pada kekuatan desain, juga mengandalkan kualitas bahannya yang bagus. Karena itu, Major Minor punya banyak kelebihan dibanding baju biasa atau buatan garmen pada umumnya. Harganya juga cukup kompetitif.
Di dalam negeri, selain di Goods Dept, busana Major Minor juga bisa dijumpai di Sogo, dan tahun ini membuka toko sendiri di EX Plaza Indonesia. Ke depan, Sari menambahkan, Major Minor ingin memiliki jaringan toko independen sendiri. Sari mengakui, kehadiran Major Minor belum terlalu banyak diketahui di Indonesia. Maklum, baru jalan satu setengah tahun. “Jadi, strategi pemasaran kami harus lebih kuat lagi, harus lebih gencar lagi berpromosi,” ujarnya.
Untuk mengorbitkan Major Minor di luar negeri, Sari pertama kali melangkah ke Singapura. Ia keluar masuk mendatangi department store di negeri tetangga itu. Hasilnya? “Lumayan. Saya bikin presentasi November, Desember dari mereka udah nelepon balik saya dan April kami bisa masuk Isetan, dept. store kenamaan di Singapura,” kata Sari.
Menurut Sari, Major Minor sudah memiliki basis pelanggan yang cukup banyak di Singapura. Karena itu, Sari berkeinginan untuk memperbanyak pelanggan di pasar domestik. Ia berharap, banyak dept.store yang mau menjual produknya. Sayangnya, semua dept. storedi sini selalu menerapkan sistem konsinyasi. “Dari sudut bisnis kami yang masih kecil, hal seperti itu menyusahkan untuk berkembang. Maka, kami berusaha sekali untuk punya toko sendiri,” ungkapnya.

sumber : http://swa.co.id/entrepreneur/major-minor-ingin-berkembang-di-pasar-domestik
ReadFull Article ..

Monday, October 28, 2013

Dipecat dari Kepolisian Briptu Rani Ingin Jadi Artis


Dipecat dari Kepolisian, Briptu Rani Ingin Jadi Artis - Surabaya, Sebagai polisi wanita, wajah Ranny Indahyuni Nugraeni memang tergolong ayu. Kulitnya putih. Rambut hitam lurusnya dipotong model bob nungging, potongan yang khas di kalangan polwan.

Ditemui Tempo tak lama setelah dipecat akhir Juli lalu, Ranny tampak tetap "fresh". Saat itu dia sedang menghabiskan waktu untuk berbelanja di sebuah mal di Surabaya. Ia ingin membeli beberapa baju untuk dirinya dan keluarganya sebelum pulang ke Bandung, 1 Agustus 2013.

Diberhentikan dari kepolisian memang membuat Ranny sedih. Maklum, menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Apalagi dia anak pertama dari ayah yang juga seorang polisi. Harapan ada penerus berseragam coklat tentu saja tertumpu pada Ranny.

Meski demikian, agaknya Ranny tidak sesedih itu. Ketika bertemu Tempo Ranny kelihatan ceria. Awalnya dia enggan untuk dipotret. Tapi tidak butuh waktu lama untuk membuatnya berpose centil. Ranny tergolong perempuan sadar kamera. Kemana kamera mengarah, ia selalu bisa menampilkan pose terbaiknya. Senyumnya selalu lepas, menunjukkan deretan behel yang memagari gigi putihnya. Setiap kali bercerita, ekspresi mata dan wajahnya selalu mengikuti. Kesan ramah dan centil melekat pada dirinya.

Usai dicopot sebagai polisi, Ranny kembali ke Bandung. Ia berharap dapat meneruskan hidupnya di Kota Kembang. Menjajal dunia hiburan sebagai artis maupun penyanyi adalah keinginannya. "Mau jadi artis, akting atau nyanyi," ujarnya semangat.

Meski demikian, ia mengaku belum mendapat tawaran dari televisi. Tapi belakangan, ia sudah menjadi model pemotretan untuk sebuah majalah di Bandung. Dunia tarik suara juga bakal menjadi obsesinya. Selama ini, Ranny kerap diminta untuk menyanyi di sejumlah acara kedinasan ataupun non kedinasan.

Saat ditanya tentang kuliah, perempuan berusia 25 tahun ini tidak tertarik. "Aduh, kalau kuliah lama, bisa keburu tua," katanya sembari tertawa.

[ source ]
ReadFull Article ..